Manusia adalah Masa Depan

Sesungguhnya tidak ada profesi, pekerjaan, bisnis, perusahaan atau negara yang memiliki MASA DEPAN. Yang memiliki masa depan hanyalah MANUSIA. Maka, sebesar apapun organisasi atau bisnis Anda hari ini, namun di dalamnya dibiarkan orang-orang yang malas, bodoh dan egois hidup di dalamnya, itu berarti Anda sedang menggali kuburan Anda sendiri. Namun, bisa jadi organisasi atau bisnis Anda masih kecil dan dipandang sebelah mata oleh yang lain, tetapi Anda menyiapkan orang-orang yang tangguh, disiplin dan setia, maka cepat atau lambat Anda akan berada di puncak kejayaan. Insya Allah.

Kamis, 15 Januari 2015

Belajar Perubahan dari Rhenald Kasali



Sekitar Juni 2010 saya berkesempatan belajar di Rumah Perubahan milik Rhenald Kasali di Bekasi. Selama 4 hari 3 malam, saya belajar tentang Entrepreneurship Mentality. Saya termasuk pengagum berat tokoh yang satu ini. Ide-ide dan wawasannya sungguh "meledakkan" api perubahan dalam diri saya. Ya, ia adalah seorang pendorong perubahan. Berikut tulisan saya tentang Rumah Perubahan.

Rumah Perubahan :
Character School ala Rhenald Kasali

Tenang, cerdas dan visioner. Itulah kesan saya tentang tokoh yang satu ini. Sudah sejak lama saya mengaguminya, tepat pada sekitar bulan Maret 1998 ketika saya berkesempatan mengikuti Seminar Sehari bersamanya di Hotel Graha Santika, Semarang. Waktu itu ia menyampaikan tentang “Rethinking The Marketing”. Banyak ide-ide besar, cerdas, kreatif dan menantang. Bagi seorang eksekutif muda seperti saya yang membutuhkan banyak pencerahan dalam menghadapi tantangan bisnis waktu itu, suasana seminar hari itu sangat mengesankan dan tak mungkin saya lupakan. Bersemangat, berenergi, bergerak ke sana kemari, kata-kata bernas berisi dan interaktif, itulah kesan mendalam yang terus tertanam. Sejak itu saya mulai sering mengikuti tulisan-tulisannya di berbagai media, mengikuti seminarnya sampai di Jakarta dan membaca buku-buku yang ditulisnya. Dialah Rhenald Kasali.
Pada bulan Juni 2010 lalu saya kembali berkesempatan bertemu dengannya. Kali ini saya mengikuti program Rhenald Kasali School for Entrepreneur (RKSE) dengan tema The Dynamic Entrepreneur. Selain programnya yang menarik, ada hal lain yang berkesan bagi saya, yaitu lokasi kegiatannya. Program itu dilaksanakan di salah satu proyeknya yang sangat visioner, yaitu Rumah Perubahan. Sebuah tempat seluas 5 hektar, rimbun, hijau, tenang dan sejuk di Bekasi, ia sulap menjadi kampus pembentukan karakter yang unik, fantastik dan bersahaja. “Saya ingin dari sini lahir orang-orang besar, tokoh-tokoh besar yang mendorong terjadinya perubahan yang memperkuat eksistensi bangsa Indonesia di mata dunia”, terangnya.
Dari Rumah Perubahan itu ia mengajarkan nilai-nilai baru pada masyarakat sekitar, mengajarkan tentang visi hidup, kreativitas, inovasi dan kemandirian. Ia menerapkan teknologi pengolahan sampah organic, membuka konsultasi usaha kecil dan melakukan renovasi rumah warga kurang sejahtera. Atas kiprah di lingkungannya kini ia sangat dikenal oleh warga sekitar. “Dulu banyak orang sinis dan pesimis melihat apa yang saya lakukan di sini. Tapi sekarang, jika ban mobil saya kempes di jalan, setiap orang datang untuk membantu saya”, kenangnya. Di ruang tamu kantor Rumah Perubahan, ia menuliskan kata-kata yang sangat berkarakter : “Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri, ia akan hilang dan lenyap saat kita mati. Apa yang kita lakukan untuk membantu merubah orang lain, ia kekal abadi”.
Hari ini di Rumah Perubahan tak pernah sepi dengan kegiatan pelatihan dan pengembangan karakter. Banyak perusahaan besar berskala nasional dan internasional mengirimkan para direktur, general manager, manager, staf ahli dan orang-orang terbaiknya belajar tentang membangun karakter dalam organisasi dan bisnis. Tidur bersama di bangsal dengan 20 orang, belajar di aula joglo yang hommy dan melakukan aktivitas outbound di taman hutan yang rindang dan asri, merupakan sebuah pengalaman belajar yang unik dan menarik. “Sekarang, leadership saja tidak cukup, kita perlu membangun intrapreneurship”, demikian ia menegaskan perlunya landscape baru manajemen modern agar mampu menghadapi persaingan global yang mematikan.
Tulisan saya berikut ini akan banyak mengutip gagasan Rhenald Kasali tentang proses pembentukan karakter dalam organisasi bisnis. Saya menemukan konsep-konsep penting dari penelitiannya di perusahaan-perusahaan besar yang perlu saya bagikan kepada Anda. Dalam buku terbarunya yang berjudul : “MYELIN : Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan” ia membuat rangkuman menarik tentang cara-cara perusahaan di Jepang membangun karakter disiplin yang mengagumkan.
Dalam bukunya Good to Great, Jim Collins menyebutkan bahwa lompatan dari hanya sekedar “baik” (good) menjadi “hebat” (great) tidak hanya menjadi impian setiap manusia secara personal, namun juga organisasi atau perusahaan. Kebanyakan perusahaan tidak bisa mencapai tingkat “hebat” karena mereka merasa sudah “baik”. Hanya beberapa perusahaan saja yang berhasil melompat dari sekedar “baik” menjadi “hebat”. Ada beberapa hal yang membuat organisasi atau perusahaan mampu membuat lompatan besar itu. Salah satu kuncinya adalah budaya disiplin.
  Jim Collins menulis, bahwa : “Semua perusahaan memiliki budaya dan beberapa perusahaan memiliki disiplin. Tetapi hanya segelintir perusahaan yang memiliki budaya disiplin. Jika memiliki sumber daya manusia yang disiplin, tak perlu hierarki. Jika punya pemikiran yang disiplin, tak perlu birokrasi. Dengan adanya discipline action, tak perlu lagi kontrol berlebihan. Kombinasikan budaya disiplin tersebut dengan etos kewirausahaan, sehingga kita memiliki ramuan ajaib untuk mencapai kinerja yang hebat”.
Dalam sebuah organisasi, disiplin kerja sangat penting agar setiap tugas dapat dilaksanakan secara tepat waktu, tepat sasaran, efektif dan efisien. Jika budaya disiplin telah melekat dalam diri setiap individu di dalam perusahaan, perusahaan akan mendapatkan hasil yang hebat dan berkelanjutan karena setiap individu akan melakukan pekerjaannya tanpa paksaan dan terus terjaga secara konsisten. Ia akan melaksanakan pekerjaannya dengan atau tanpa pengawasan.
Ketika disiplin telah menjadi budaya, disiplin tak lagi menjadi momok bagi para pekerja, atau menjadi semacam tirani yang kejam yang dibuat oleh pemimpin perusahaan. Melainkan ia menjadi sebuah nilai yang tumbuh dari setiap orang. Negeri Sakura membuktikan bahwa budaya disiplin bisa melahirkan perusahaan-perusahaan hebat, yang pada akhirnya membuat Negara itu menjelma menjadi negara yang kuat.
Perlu diingat, Jepang pernah mengalami kehancuran total pada Perang Dunia II ketika Amerika Serikat dan sekutunya menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Bom tersebut telah menghancurkan Jepang yang mengakibatkan 140,000 orang di Hiroshima dan 80,000 orang di Nagasaki tewas mengenaskan. Tragedi itu sangat menyakitkan bagi bangsa Jepang, namun mereka tidak larut dalam kesedihan. Dengan cepat Jepang bangkit dari keterpurukan. Mereka ingin kembali mengangkat kehormatan bangsa Jepang di mata dunia.
Pasca pengeboman, muncul kesadaran nasionalisme baru bangsa Jepang. Mereka ingin menjadi bangsa yang terbaik di segala bidang, termasuk ekonomi dan bisnis. Dalam rangka menjadi yang terbaik itulah mereka membentuk Japanesse Standard Association (JSA) di sector industry pada tahun 1945. Pembentukan institusi ini dilandasi kesadaran akan pentingnya pembentukan standard sebuah produk.
Penetapan standar tersebut mendorong Nippon Electric Company memperkenalkan quality control system untuk pertama kalinya. Pembahasan-pembahasan tentang standar quality control kemudian dilakukan secara intensif. Jepang juga tidak menutup diri. Mereka mengundang pakar-pakar dalam bidang quality control dari negara-negara lain. Salah satu pakar Amerika Serikat yang diundang untuk memberikan saran adalah Deming. Ia merupakan orang pertama yang mengemukakan konsep PDCA (Plan-Do-Check-Action) circle.
Hasilnya sungguh mengagumkan. Pada tahun 1960 Perdana Menteri Jepang Hayato Ikeda mengajukan program untuk meningkatkan pendapatan nasional 2 kali lipat dalam tempo 10 tahun. Ternyata target ini dapat dicapai, bahkan terlampaui! Dalam waktu relative singkat Jepang menjadi raksasa industry dunia. Produk-produk elektronik, otomotif, home appliance dan masih banyak lagi barang buatan Jepang lainnya menjadi trade mark, jaminan mutu dan mulai menguasai dunia. Apa kunci sukses mereka? Jawabannya adalah budaya kerja!
Bagi orang Jepang, pekerjaan merupakan kebanggaan. Rasa bangga itu muncul ketika mereka telah melakukan pekerjaan dengan baik. Norma dan nilai yang baik dijadikan landasan untuk melakukan pekerjaan. Namun sebaliknya, jika pekerjaan itu tidak bisa diselesaikan dengan sempurna, rasa malulah yang akan muncul.
Raksasa otomotif Jepang, Toyota, bisa menjadi besar karena perusahaan yang didirikan oleh Kiichiro Toyota ini secara konsisten menjalankan 14 prinsip manajemen perusahaan manufaktur atau yang terkenal dengan sebutan Toyota Ways. Toyota Ways merupakan upaya pemberdayaan menyeluruh demi mencapai peningkatan secara berkesinambungan (continuous improvement) dan bertujuan untuk menghilangkan pemborosan (waste) dari system produksi, sehingga akan tercipta organisasi yang ramping (lean). 

Perusahaan Jepang sangat menyadari bahwa produk yang unggul harus diawali dengan budaya disiplin, yaitu disiplin dalam bekerja yang terencana, konsisten dan melibatkan seluruh level pekerja. Disiplin terhadap waktu juga menjadi ujung tombak. Pemenuhan terhadap ketepatan waktu menjadi ukuran mutu sebuah produk. Dengan budaya disiplin semacam itu, tak mengherankan jika kini Sony, Toyota, Honda, Mitsubishi, Yamaha dan Kawasaki menjadi perusahaan ternama yang mendunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar