Manusia adalah Masa Depan

Sesungguhnya tidak ada profesi, pekerjaan, bisnis, perusahaan atau negara yang memiliki MASA DEPAN. Yang memiliki masa depan hanyalah MANUSIA. Maka, sebesar apapun organisasi atau bisnis Anda hari ini, namun di dalamnya dibiarkan orang-orang yang malas, bodoh dan egois hidup di dalamnya, itu berarti Anda sedang menggali kuburan Anda sendiri. Namun, bisa jadi organisasi atau bisnis Anda masih kecil dan dipandang sebelah mata oleh yang lain, tetapi Anda menyiapkan orang-orang yang tangguh, disiplin dan setia, maka cepat atau lambat Anda akan berada di puncak kejayaan. Insya Allah.

Selasa, 03 Maret 2015

Rahasia Sidik Jari dalam Al Qur'an




Sidik jari dalam bahasa Arab disebut dengan al banan. Dalam Al Qur’an, kata al banan hanya disebut 2 kali, yaitu di surat al Anfaal (8) : 12 dan surat al Qiyamah (75) : 4.  Ibnu Manzhur dalam kitab Lisanul Arab mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al banan adalah jari jemari/ujung jari/sidik jari pada tangan dan kaki manusia.
Kata al banan dalam surat al Anfaal : 12 membahas tentang sebuah taktik peperangan yang diperintahkan Allah kepada Muhammad. Dalam ayat ini Allah mengisyaratkan adanya kekuatan dan hubungan antara kepala dan ujung jari manusia. Coba kita perhatikan terjemahan surat tersebut.

“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan ketakutan dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka”
(QS. Al Anfaal (8) : 12)

Pernahkah kita berfikir mengapa Allah memerintahkan untuk memenggal kepala dan ujung tiap-tiap jari mereka? Seolah ada isyarat bahwa di dalam kepala ada sebuah kekuatan yang sangat besar. Bahkan di ujung jari jemari pun, seolah ada juga kekuatan yang sangat besar. Adakah hubungan di antara keduanya? Mengapa bukan kepala dan perut? Atau kepala dan lutut? Atau kepala dan jantung? Ada rahasia besar apa dengan 2 bagian tubuh manusia itu? Adakah kaitan antara kepala dan ujung jari kita?

Sementara jika kita perhatikan makna al banan dalam surat al Qiyamah : 4, kita melihat bahwa Allah menjadikan kesempurnaan sidik jari sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaanNya. Bahkan Allah menunjukkan jika kelak di hari kiamat Allah kuasa menyusun kembali tulang belulang manusia, bahkan kuasa menyusun kembali bagian yang lebih rumit yaitu susunan dan pola sidik jari manusia.

Mari kita perhatikan surat al Qiyamah ayat 1-5 :
  لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (١) وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢) أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ (٣) بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ   (٤) بَلْ يُرِيدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ (٥)
Artinya :

“Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri), Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna, Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.”

Jika memang demikian pentingnya fungsi dan peran al banan dalam kehidupan manusia dan Allah sudah menyebutnya dalam Al Qur’an, apakah pada masa Rasulullah sudah ada orang atau ahli yang menguasai ilmu tentang sidik jari ini? Dan pernahkah Rasul menggunakan keahlian ini untuk menyelesaikan sebuah perkara?

Perlu kita ketahui, bahwa sejak masa jahiliyyah, bahkan sampai sekarang masih berkembang beberapa metode peramalan dan pengundian nasib yang sangat popular. Beberapa diantaranya adalah :
1.      Al Kuhanah : meramal nasib atau perkara gaib yang telah terjadi di masa lampau
2.      Al Arrafah : meramal nasib atau perkara gaib yang akan terjadi di masa yang akan datang,
Metode yang sering mereka gunakan adalah :
1.      Al Tanjim : dikenal sebagai ilmu nujum yaitu mengamati posisi dan peredaran bintang-bintang tertentu.
2.      Al Khatthah : dengan cara menggunakan garis dan gambar tertentu di atas tanah atau di atas kertas.
3.      Qiratul kaff : dikenal dengan istilah palmistry yaitu dengan menggunakan garis-garis telapak tangan.
4.      Taqsim bil Azlam : dengan menggunakan anak-anak panah sebagai alat untuk mengundi.
5.      Al Ta’tsir : menggunakan posisi bintang sebagai petunjuk peristiwa dan nasib di bumi.

Di antara praktek-praktek yang banyak dilakukan di masa jahiliyyah tersebut, ternyata ada satu lagi ilmu yang tergolong unik di masa itu yaitu al qafah atau qiyafah. Orang yang ahli menggunakan ilmu ini disebut dengan qaif. Ilmu ini waktu itu digunakan untuk mengetahui nasab seseorang melalui analisa sidik jari kaki mereka. Pada masa Nabi, nasab (garis keturunan) dipandang sangat penting dalam menilai potensi dan kemampuan seseorang. Seorang ayah yang ahli perang, biasanya akan mendidik anaknya dengan kemampuan perang yang hebat juga, sehingga faktor nasab sering dijadikan jaminan atas kualitas seseorang. Selain faktor kemampuan, Nabi juga memperhatikan faktor keturunan ketika memilih utusan dalam tugas-tugas penting kenegaraan.

Salah seorang qaif yang terkenal di masa Nabi adalah Mujazziz al Mudliji. Nama sosok ini pernah disebut dalam sebuah riwayat dalam hadis sahih al Bukhari pada Kitab al Fara’idh, Bab al Qaif, halaman 798, hadis nomor 6771. Dikisahkan pada masa Nabi, orang-orang munafik mencela Usamah ibn Zaid yang telah dipilih dan diutus oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan perang pada usia yang masih sangat muda. Usamah adalah putra dari Zaid ibn Haritsah, seorang sahabat yang sangat dicintai oleh Rasulullah. Zaid mendapat julukan Hubbu Rasulillaah (Orang yang sangat dicintai Rasulullah). Ia adalah panglima perang pertama dari 3 panglima perang yang ditunjuk Nabi dalam Perang Mu’tah. Zaid ibn Haritsah ditunjuk bersama Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Ini adalah sebuah strategi baru Rasul yang menunjuk 3 panglima perang. Mereka diminta memimpin 3000 pasukan Islam untuk menghadapi 100,000 pasukan Heraklius. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syuhada dalam perang tersebut. Namanya harum sebagai panglima perang yang berani.

Usamah putra Zaid diragukan kemampuannya. Bahkan banyak orang-orang munafik yang meragukan, jika Usamah adalah benar-benar putra dari Zaid ibn Haritsah. Mereka mempersoalkan kulit Usamah yang sangat berbeda dengan ayahnya. Isu ini sempat membuat gelisah Rasulullah. Bagaimana cara membuktikan bahwa Usamah adalah benar-benar putra Zaid walaupun kulit mereka berbeda warnanya? Maka, dipanggillah ahli qaif yang terkenal di masa itu, yaitu Mujazziz al Mudliji untuk memeriksa Usamah dan Zaid.

“Dari al Zuhri dari Urwah dari Aisyah telah berkata suatu hari Rasulullah masuk ke rumahku dengan wajah ceria, beliau berkata, “Wahai Aisyah, tahukah engkau bahwa Mujazziz al Mudliji masuk melihat Usamah ibn Zaid dan Zaid (ayahnya) sedang tidur berselimut menutupi kepala keduanya, sedangkan telapak kaki mereka tampak jelas. Kemudian ia (Mujazziz al Mujlidi) berkata : “Sesungguhnya telapak kaki-telapak kaki ini sebagiannya dari yang lainnya”
 (HR. Bukhari)

Hadis yang senada juga bersumber dari Imam Muslim dalam kitab Shahih, halaman 339 dan kitab al Radha’ (menyusui) Bab al Amal bi Ilhaq Qaif al Walad, dengan menambahkan informasi bahwa Mujazziz itu seorang qaif.

Dari hadis tersebut jelas, bahwa Nabi pernah menggunakan jasa seorang qaif untuk menganalisa pola dan  sidik jari kaki Usamah dan Zaid yang hasilnya membuat Rasulullah tersenyum ceria dan persoalan fitnah orang-orang munafik pun akhirnya mereda.

Imam ibn Qayyim al Jauziyyah dalam kitab Zadul Ma’ad, Bab Hukum Rasulullah tentang Qadha’uhu bil I’tibar II Qaif wa Ilhaq an Nasab biha pada jilid 5 telah menguraikan masalah bahwa al qafah atau al qiyafah berbeda dengan al kuhanah (perdukunan). Dengan dalil tersebut jelas bahwa Rasulullah mengharamkan al kuhanah dan menyetujui al qafah. Begitu juga Umar bin Khattab dan Ali bin Abu Thalib pernah meminta bantuan ahli qiyafah (seorang qaif) ketika menghadapi kasus perselisihan tentang nasab seorang anak yang lahir dari wanita yang dicampuri oleh 2 lelaki pada masa suci.

Dari ayat dan hadis tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa menganalisa sidik jari menggunakan pengetahuan dan teknologi mutakhir yang bukan dimaksudkan untuk meramal nasib, namun hanya sebatas untuk mengetahui dan mendiagnosis jenis kecerdasan dan kepribadian seseorang dipandang sebagai pengembangan fungsi dan keilmuan seorang qaif. Hukum dari kegiatan ini adalah mubah atau dibolehkan. Apalagi jika hasil diagnosis sidik jari tersebut justru memunculkan sikap-sikap positif yang disukai Allah, seperti makin bersyukur dengan potensi diri dan potensi anak kita, suami istri makin kompak dalam mendidik anak, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, membangun rasa percaya diri dan optimism tentang masa depan, meningkatkan motivasi belajar dan menuntut ilmu, serta memudahkan proses pembelajaran al Qur’an kepada anak. Apalagi jika kegiatan ini justru memunculkan gairah dan semangat untuk melahirkan generasi terbaik yang dicintai dan mencintai Allah dan RasulNya.

Semoga dengan tulisan ini dapat memberikan dasar pijakan hukum yang jelas kepada para pegiat Tes Mesin Kecerdasan STIFIn, para orangtua yang telah mengikutkan putra-putrinya dalam Tes STIFIn, mereka yang belum mengenal STIFIn dan mereka yang masih meragukan STIFIn, semoga Allah memberikan petunjuk dan kemantapan hati. Ya, STIFIn hanyalah alat bantu. Yang paling utama adalah mengajarkan Al Qur’an dalam dada putra-putri kita. Jadilah keluarga yang Qur’an minded, jangan menjadi keluarga yang STIFIn minded he he he…..Artinya, terlalu percaya dengan STIFIn hingga lupa mendalami dan mempraktekkan Al Qur’an dalam kehidupan keluarga kita masing-masing he he he…

Tulisan ini juga mengingatkan kepada mereka yang menentang, menuduh dan bahkan menyebarkan fitnah tentang STIFIn yang disamakan dengan ilmu meramal nasib yang diharamkan Allah. Atau bagi mereka yang sering mengatakan bahwa ilmu sidik jari (al qaif) adalah ilmu palsu, penuh kebohongan dan bertentangan dengan aqidah Islam, bahkan dikatakan sebagai ilmu Yahudi, maka dengan segala kerendahan hati saya memohon untuk menghentikan segala fitnah dan tuduhan tersebut, karena dalam sejarah Nabi ternyata keahlian yang seperti ini dibolehkan dan bahkan Nabi dan sahabat pun pernah menggunakannya dalam perkara-perkara tertentu.  Wallahu ‘alam bisawab. Salam Hidup Berkah, Edy Darmoyo ###

Sumber tulisan :
1.      Al Qur’an dan Terjemahnya
2.      Hujjah Naqli Penggunaan Sidik Jari, Ustad Uus Mauluddin, MA, CHt; Mudirul ‘Am Pondok Pesantren Quran Terpadu “Mimbar Huffazh”, Bekasi.
3.      Brain Genetic Potential, Beni Badaruzaman, Mizania, Bandung, 2014.

4.      Kisah-kisah Manusia Pilihan, Abdurrahman bin Abdullah, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar